Massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi,
membawa poster dalam aksi di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi,
Jakarta, Jumat (23/1/2015). Aksi ini merupakan respons atas penangkapan
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, oleh Bareskrim Mabes Polri.
Oleh: Amir Sodikin
JAKARTA, KOMPAS - Dukungan dari media sosial menjadi
salah satu kekuatan Joko Widodo saat yang bersangkutan memenangi
pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dan saat Pemilu Presiden 2014.
Pada saat sama, Jokowi diduga juga meyakini kekuatan media sosial.
Kondisi ini membuat perkembangan percakapan tentang Jokowi di media
sosial menjadi salah satu bahan analisis menarik lembaga-lembaga
pemantau penganalisis media sosial, seperti Awesometrics.
Dari kantornya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, analis media
sosial Awesometrics, Yustina Tantri, terus memelototi pergerakan kurva
yang merekam percakapan terkait Jokowi. Yustina memulai analisis sejak
tiga hari sebelum Jokowi dilantik sebagai presiden hingga kini.
Dengan menggunakan pustaka Awesometrics, belakangan ini Yustina
tertegun melihat pergerakan grafik percakapan yang dihimpun dari ratusan
media massa dan media sosial. Dia melihat, sesuatu yang besar sedang
terjadi.
Yustina melihat sentimen negatif terhadap Jokowi terus meningkat di
media sosial. Sentimen negatif ini mulai mendominasi sejak bulan ketiga
kepemimpinan Jokowi.
Lebih tepat lagi, kenaikan sentimen negatif dimulai 8 Januari 2015
dengan 2.784 percakapan, 10 Januari berlipat menjadi 4.868 percakapan,
naik lagi pada 13 Januari sebanyak 6.911 percakapan, dan tertinggi 15
Januari sebanyak 9.967 percakapan.
"Sentimen negatif meningkat tajam pada 15 Januari karena ada kabar
Jokowi akan melantik (Komisaris Jenderal) Budi Gunawan sebagai Kepala
Polri, padahal dia sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 13
Januari," kata Yustina.
Total selama 100 hari, sentimen negatif untuk Jokowi mencapai 74.346
percakapan, sentimen positif 71.048 percakapan, dan 627.652 posisi
netral. Padahal, pada 17 Oktober–18 November 2014, sentimen negatif
hanya 66.526 berbanding 155.212 sentimen positif, dengan sentimen netral
2 juta.
Pendiri Provetic, Iwan Setyawan, juga menemukan hasil serupa. Dia
juga menemukan, untuk pertama kali dalam tiga bulan terakhir sentimen
negatif Jokowi lebih tinggi daripada yang positif, pada 15 Januari lalu.
Sebelum memasuki 15 Januari, rata-rata dalam tiga bulan terakhir
sentimen positif selalu lebih tinggi daripada sentimen negatif, berkisar
25 persen berbanding 17 persen.
Topik pembicaraan yang paling menyumbangkan sentimen negatif selama
bulan Januari 2015 adalah terkait Kepala Polri (22.497) dan disusul
topik bahan bakar minyak (8.088). "Perbincangan Jokowi juga dikaitkan
dengan KPK (14.756) dan (Ketua Umum PDI-P) Megawati (6.782)," kata Iwan.
Penurunan sistematis
Penurunan sentimen positif Jokowi di media sosial sebenarnya tak
terjadi tiba-tiba. Jika dilihat selama tiga bulan pertama pemerintahan
Jokowi, penurunan reputasi dan popularitas Jokowi di mata netizen akan
terlihat terjadi secara sistematis. Kondisi ini sebenarnya membahayakan
Jokowi.
Yustina mencatat, selama tiga bulan pemerintahan, percakapan total
tentang Jokowi mencapai 4,1 juta dari berbagai kanal media. Puncak
percakapan pada 20 Oktober 2014 saat pelantikannya sebagai presiden,
menunjukkan harapan baru.
Jika dibagi dalam tiga bulan, pada bulan pertama jumlah percakapan
Jokowi tertinggi, mencapai 2,3 juta di berbagai kanal. Penghargaan
netizen terhadap Jokowi dengan sentimen positif sebenarnya mudah ditebak
dan Jokowi menyadari potensi ini.
Misalnya, kata Yustina, tiga hari jelang dilantik, Jokowi mengunjungi
Prabowo Subianto pada 17 Oktober 2014 saat ulang tahun Prabowo. "Ini
mengundang simpati, termasuk dari pendukung Prabowo dan berdampak
positif buat Jokowi. Favorabilitas (sentimen positif lebih tinggi dari
negatif) terhadap Jokowi saat itu meningkat di media sosial," kata
Yustina.
Antusiasme masih meningkat saat pelantikan menteri, 27 Oktober 2014.
Namun, sentimen negatif tumbuh ketika dia tetap melantik nama-nama yang
mendapat rapor merah KPK.
Saat Jokowi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak, 17
November 2014, sentimen negatif menguat. Tagar bersentimen negatif mulai
menjadi topik tren Twitter, seperti #SalamGigitJari. "Namun, sentimen
masih netral (51 persen), positifnya pun masih lebih tinggi, yakni 26
persen dari negatifnya yang 22 persen," kata Yustina.
Pada bulan kedua, periode 17 November hingga 17 Desember 2014,
popularitas Jokowi turun hingga 50 persen dibandingkan dengan bulan
pertama. Percakapan tentang Jokowi hanya 1,1 juta di berbagai kanal.
Awesometrics mencatat, pada 21 November 2014 Jokowi mengangkat HM
Prasetyo, anggota DPR dari Partai Nasdem sebagai Jaksa Agung.
Pengangkatan Prasetyo memperburuk reputasi Jokowi. Aktivis Indonesia
Corruption Watch, Emerson Yuntho, dalam kicauannya di Twitter menilai,
pemilihan Prasetyo merupakan titipan partai sehingga kejaksaan rawan
diintervensi.
Itulah awal mengkristalnya kekesalan netizen terhadap Jokowi. Tinggal
menunggu momentum buruk, Jokowi bisa kehilangan kepercayaan pada bulan
berikutnya. Tepatnya bulan ketiga 17 Desember 2014-17 Januari 2015,
popularitas Jokowi merosot tajam dengan jumlah percakapan hanya 773.046
dari berbagai kanal.
Kebijakan Jokowi yang memilih Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri
dianggap netizen sebagai pilihan sadar hingga semakin mengikis reputasi
dan sentimen positif atas dirinya di media sosial.
Netizen marah kepada Jokowi yang dilampiaskan dengan gerakan #SaveKPK dan juga petisi daring di www.change.org/bebaskanbw.
"Dulu Jokowi adalah kita. Sekarang jika Jokowi tetap melantik
tersangka korupsi sebagai Kapolri, maka Jokowi adalah mereka," kata
Denny JA dengan akun @dennyJA_World.
"Ini komitmen kita untuk menarik dukungan setelah pilpres dan
membentuk parlemen jalanan," kata Marzuki Mohamad, pemilik akun
@killthedj yang dikutip akun @jejakpelamun. Penggiat media sosial Ulin
Yusron, Denny JA, dan Marzuki "Kill the DJ" adalah beberapa contoh
pendukung Jokowi yang kini mengkritik keras Jokowi.
Abdee Negara, sukarelawan konser "Salam 2 Jari", bersama
rekan-rekannya memprotes Jokowi karena pengangkatan Budi Gunawan. Abdee
juga mengirimkan tagar #SaveKPK dari akun @AbdeeNegara. Namun, karena
dia masih sakit, gerakan memprotes situasi terakhir belum tampak
signifikan dari seorang Abdee "Slank".
Rekan Abdee, Melanie Subono, dengan akun @melaniesubono, lebih dulu
meluapkan kemarahan. "Menanti seorang presiden bertindak sebagai
presiden. Penangkapan (Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Polri)
ini adalah upaya mendelegitimasi kewenangan KPK dalam mengusut kasus
Budi Gunawan," kata Melanie terkait penangkapan dan penetapan Bambang
Widjojanto sebagai tersangka pada Jumat (23/1) lalu.
Situasi politik saat ini mungkin jauh lebih rumit bagi Jokowi. Namun,
bagi para netizen, jauh lebih mudah mengidentifikasi siapa lawan siapa
kawan.
Saat pemilu presiden lalu "Jokowi adalah Kita" menjadi slogan amat
terkenal. Kini, agaknya Jokowi perlu lebih tegas memilih antara "mereka"
dan "kita".
berita ini diambil dari
http://nasional.kompas.com/read/2015/01/30/22073301/Senja.Kala.Bulan.Madu.Jokowi-.Netizen.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=KhlwpIkuti perkembangan berita ini di kompas.com dalam topik :
| Editor | : Laksono Hari Wiwoho |
| Sumber | : KOMPAS CETAK |