Showing posts with label KULIAH. Show all posts
Showing posts with label KULIAH. Show all posts

Apakah Kuliah Itu Penting?

Ini adalah sebuah cerita yang biasa kita saksikan. Misal ada satu keluarga petani, tinggal di desa. Mereka punya sawah atau kebun, hidupnya bisa cukup dengan hasil darinya. Dengan hasil kebun itu mereka dapat menyekolahkan anak, hingga sampai ke perguruan tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang menjual sebagian sawah atau ladang untuk keperluan tersebut.

Disaat anaknya selesai kuliah, ia tak menjadi apa-apa. Ia tidak mendapatkan kerja di perusahaan atau lembaga pemerintah. Ia kemudian kembali ke kampung, bertani lagi. Atau malah bekerja sebagai buruh.

Tidak terlihat sesuatu yang membedakan ia dengan orang-orang yang tak kuliah. Taksedikit pula yang bahkan tidak bisa mandiri seperti orang tua mereka, sekedar menumpang hidup dari harta yang didapat oleh orang tua.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah yang salah pada perguruan tinggi kita?

Di masa 20-30 tahun terakhir ini kita  mengalami berbagai jenis transformasi. Ada transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Juga transformasi demografis dari desa menjadi urban.

Akses ke dunia pendidikan sedang bertransformasi menjadi sangat lebih mudah. Dalam hal itu seharusnya terjadi pergeseran pola pikir. Namun sering kali terjadi situasi yang tidak sinkron antara yang dihadapi dengan pola pikir yang dipakai.

Di masa lalu sekolah merupajan tiket untuk pindah dari gelar petani-desa-wong cilik menjadi pegawai-kota-priyayi.

Semisal digambarkan oleh Umar Kayam di novel “Para Priyayi’, sekolah membuat para wong cilik yang tadinya harus menerima status wong cilik sebagai suratan takdir, dapat bertransformasi menjadi priyayi. Anak orang desa, sekolah, menjadi pegawai pemerintah atau swasta, dan menjadi orang kaya dan terhormat di kota.

Proses inilah yang dipercayai oleh banyak orang. Mereka terjebak dalam ilusi, bahwa sekolah, khususnya perguruan tinggi ialah mesin pencetak priyayi. Siapapun yang masuk ke sana akan keluar sebagai sosok yang digambarkan di atas. Dengan bermodal gelar sarjana dan ijazah, mereka berharap dapat pindah dari domain wong cilik menjadi priyayi.

Di masa lalu hal itu memang masih berlaku. Siapapun yang pernah kuliah nyaris bisa dapat dipastikan akan mendapat pekerjaan. Tapi sekarang situasi itu sudah berubah. Fakta menunjukkan bahwa ada begitu banyak pengangguran sarjana, fenomenanya diwakili oleh cerita di awal tulisan ini tadi. Diperkirakan saat ini ada 500 ribu sarjana yang menganggur.

Para orang tua menyekolahkan anak-anak mereka atas dasar pada ilusi tadi. Mereka tidak dapat menimbang kemampuan intelektual anak. Pokoknya adalah kuliah. Kalau tidak bisa masuk jurusan favorit, maka cari jurusan lain. Tak bisa masuk ke perguruan tinggi besar, maka masuk ke perguruan tinggi kecil pun tak apa. Tidak bisa masuk ke negeri, ke swasta pun juga boleh. Tak bisa masuk ke PTS mahal, carilah yang murah.

Sebagian besar dari anak-anak yang dikuliahkan juga berpikir seperti itu. Masih ada banyak yang mengira bahwa ijazah dan gelar sarjana akan bisa menjamin masa depan mereka. Mereka tidak tahu soal apa yang dibutuhkan dalam merebut kesempatan kerja yang sudah semakin menyempit. Mereka kuliah tanpa rencana dan target.

Adapun perguruan tinggi, mereka hanya menangkap situasi ini sebagai pasar yang perlu digarap. Orang-orang membuka berbagai perguruan tinggi swasta, agar menampung luberan peminat kuliah yang tidak tertampung di perguruan tinggi negeri.

Maka dengan begitu kita menyaksikan perguruan tinggi berdiri hingga ke pelosok negeri. Tidak mau kalah dengan swasta, perguruan tinggi negeri menyelenggarakan berbagai program extention, untuk menampung orang-orang yang tak lulus dalam seleksi reguler.

Orang-orang malah menjadi gila gelar. Lulusan sekolah vokasi yang tadinya tidak perlu menyandang gelar sarjana, memaksa dirinya pindah ke jalur akademik, agar ia punya gelar. Tidak punya gelar dianggap seperti orang cacat. Orang merasa lebih tidak nyaman dalam status tanpa gelar daripada tanpa keahlian.

Situasi ini perlulah kita ubah. Orang-orang perlu dibangunkan dari ilusi. Sekolah atau perguruan tinggi bukanlah mesin pencetak para priyayi. Harus disadari bahwa tidak semua orang harus  atau perlu kuliah. Juga tidak semua orang harus menjadi sarjana.

Menguliahkan anak harus didahului dengan pemikiran tentang apa potensi yang dimiliki oleh anak, dan perencanaan soal akan jadi apa anak itu kelak.

Juga harus disadarkan kalau masa priyayi sudah selesai. Saat ini orang bisa hidup terhormat sebagai petani yang makmur. Atau jadi seorang pedagang, perajin, dan pengusaha. Tak selalu harus jadi pejabat negara atau perusahaan.

Anak-anak dapat dikuliahkan dengan mempertimbangkan potensi yang dirinya miliki, juga aset yang dipunyai keluarganya. Seorang anak petani, misalnya, dapat belajar untuk mengelola pertanian orang tuanya secara lebih modern, berikut aspek bisnis pertanian tersebut.

Poin terpentingnya ialah kalau kuliah itu tempat belajar. Belajar dengan suatu tujuan, dan target. Mau jadi apa seseorang dengan melakukan kuliah, maka jurusan yang ia pilih disesuaikan dengan tujuan itu. Kemudian selama kuliah ia secara terstruktur dan terencana belajar soal hal-hal yang ia butuhkan

Persiapan Kuliah ke Amerika


Pelajar Indonesia perlu bersaing ketat bila ingin melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat (AS). Urusan biaya juga harus ada strategi mulai siapkan jauh-jauh hari, perlu dipersiapkan sejak berencana belajar ke sana.

Institute of International Education AS mencatat ada 7.920 pelajar Indonesia yang melanjutkan  pendidikan tinggi ke negara itu pada tahun ajaran 2013/2014. Angka ini kemudian naik menjadi menjadi 8.188 pada tahun ajaran berikutnya, menurut Times Higher Education World University 2016, tujuh dari sepuluh perguruan tinggi terbaik dunia adalah ada di AS.

Walau jumlah tersebut terlihat besar, proses seleksi agar bisa belajar ke AS sebenarnya sangat ketat. Secara nasional, persentase jumlah pelajar internasional yang ada di AS pada 2015 hanyalah lima persen saja.

Mayoritas perguruan tinggi di AS membatasi populasi pelajar internasional tidak lebih dari 10 persen. Para pelajar itu juga harus bersaing dengan peminat dari banyak negara, untuk kursi yang terbatas itu. Apabila 300 pelamar dari Indonesia, misalnya, kemungkinan hanyalah dua orang sampai tiga orang yang diterima universitas di AS.

Bukan hanya persaingan, para calon mahasiswa internasional juga perlu mempersiapkan biaya lebih mahal untuk belajar di AS dibandingkan negara-negara lain yang ada di kawasan Eropa, Australia, atau Asia.

Di tahun ajaran 2014/2015 saja, biaya kuliah di AS rata-rata bisa  mencapai 42.419 dollar AS per tahun atau sama dengan sekitar Rp 563 juta memakai kurs rupiah dollar saat ini. Nominal itu belum juga termasuk biaya kebutuhan pangan, tempat tinggal, dan transportasi sehari-hari. Wahhh..

Tetapi, kamu jangan berkecil hati. Masih ada banyak jalan menuju AS. Persiapan dengan modal kerja yang sangat keras dan kemauan tinggi, itu bisa menjadi penentu lolos melanjutkan sekolah ke sana. Biaya pun dapat ditekan seminimal mungkin dengan jurus yang sama.



Hemat dan pangkas waktu

Perguruan tinggi yang ada di AS menerapkan sebuah sistem kredit atau Satuan Kredit Semester (SKS) sifatnya fleksibel atau istilahnya adalah bisa "ditransfer" ke institusi pendidikan lain. Pada awal perkuliahan biasanya mahasiswa akan disuguhkan mata kuliah umum terlebih dulu.

Nah, mata kuliah itu sebenarnya bisa "dicicil" di community college selama dua tahun sebelum melanjutkan ke universitas yang dipilih. Cara inilah yang bisa menghemat dana karena biaya kuliah di community college tak semahal perguruan tinggi.

Contohnya, menamatkan program S-1 biasanya butuh 120 sampai 128 SKS dan sekitar 60 SKS dapat diambil di community college. Setelah ada 60 SKS terkumpul, mahasiswa bisa mendapatkan gelar Associate Degree dan bisa melanjutkan studi ke universitas di AS selama dua tahun agar meraih gelar sarjana (S-1).

Sebagai gambaran, menyelesaikan 24 SKS di perguruan tinggi rata-rata akan memakan biaya hingga 16.500 dollar AS. Jumlah SKS yang sama bila ditempuh di community college hanyalah butuh dana sekitar 6.000 dollar AS. Karena itu, strategi di atas cukup umum dilakukan di AS.

Data American Association of Community College di 2012 menunjukkan, hampir ada setengah dari 12,4 juta mahasiswa yang terdaftar di 1.167 community college dan melanjutkan ke jenjang S-1 di perguruan tinggi AS.

Selain untuk menghemat uang, memulai kuliah dari community college juga memangkas waktu studi. Ada salah satu program di Sampoerna Academy yang merupakan bagian dari Sampoerna Schools System di Indonesia, contohnya.

Para siswa yang ada di Sampoerna Academy yang telah menyelesaikan kelas X bisa mendaftar ke sebuah community college asal AS, yaitu Lone Star dan Broward college. Namun, tenang saja, perkuliahan tetap dilakukan di Indonesia di bawah pengawasan dua community college itu. Jelas, biaya kuliah pun jadi lebih hemat.

Untuk informasi lebih lengkap tentang peluang tersebut, kamu bisa mengunjungi Sampoerna Academy and Sampoerna University Education Expo 2016 yang akan berlangsung mulai 26 September 2016 sampai 2 Oktober 2016 di Main Atrium, Gandaria City Mall, Jakarta. Dan untuk tahun selanjutnya, kamu bisa cari tahu sendiri :p

Sebelum kamu mengunjungi pameran, lihatlah informasi yang ada di situs berikut ini mungkin bisa membantu kamu untuk mengenal lebih dalam lagi tentang program tersebut:
http://sampoernauniversity.ac.id/5-alur-dapatkan-gelar-sarjana-amerika/.

YANG DIPELAJARI DI JURUSAN ILMU KOMUNIKASI


Mengikuti perkuliahan kini bukan lagi menjadi barang langka, bahkan sudah banyak Universitas 'membanting harga' agar lulusan SMA bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih baik. Pilihan jurusan pun mulai banyak melabilkan calon mahasiswa, ada yang mengambil Ekonomi, Teknik, Dokter, bahkan Sastra Jawa.

Pada artikel ini tidak membahas tentang Ilmu Komunikasi secara teoritis, dalam artikel ini hanya ingin menjabarkan tentang Ilmu Komunikasi secara umum dan awam agar calon Mahasiswa yakin memilih Fakultas Ilmu Komunikasi dengan baik tanpa penyeselan. Jadi buat pembaca yang tidak tertarik Ilmu Komunikasi, silahkan keluar dari artikel ini.

Ilmu Komunikasi bisa dikatakan sebagai Ilmu baru yang diturunkan dari ilmu murni Sosiologi, Antropologi, Psikologi, dan Statistik. Jadi jangan heran kalau di Fakultas Ilmu Komunikasi, anda tetap berhadapan dengan namanya Matematika, namun tidak rumit seperti matematika eksak. Fikom, sebutan Fakultas Ilmu Komunikasi, kini menjamur dan hampir berdiri di setiap Universitas, baik negeri maupun swasta. Hal ini karena adanya stigma Fikom adalah fakultasnya anak gaul jaman sekarang yang isinya banyakan artis. Jelas saja, peminatnya membluldak hingga berkali-kali lipat. Tapi, apa mungkin kita memiliki Fikom sebagai ilmu induk anda kedepannya, hanya karena trend saat ini tanpa tahu akan jadi apa nanti?

Ilmu Komunikasi mengalami banyak kemajuan yang lebih, terutama jaman yang serba Internet saat ini. Komunikasi menjadi lebih rumit dibanding menghitung gaji anda setiap bulan. Komunikasi makin besar dan makin kompleks dengan gejala-gejala ilmu lain. Hal ini tentu membuat Komunikasi akan menjadi Ilmu yang lebih kaya, lebih maju, dan lebih berkembang. Namun tahukah anda kalau ternyata lulusan Ilmu Komunikasi sama seperti S1 tanpa spesialisasi?

Ilmu Komunikasi banyak menjanjikan pekerjaan yang bisa dikatakan seru. Terbilang kerja di Event Organizer, Media, dan PR Consultant. Namun ternyata, lapangan pekerjaan tersebut bisa juga diambil oleh lulusan Ilmu lain. lalu apa gunanya belajar Ilmu Komunikasi? Saya ambil contoh Kompas Gramedia, lowongan menjadi reporter sangat dibutuhkan untuk mengisi konten medianya, namun yang diseleksi boleh lulusan secara umum, bahkan untuk spesialisasi seperti Majalah Automotive atau Majalah Interior, mereka lebih mencari yang lulusan teknik dan arsitektur.

Tentu hal ini memudarkan janji pekerjaan yang dibicarakan pada awal. Lalu sebenarnya dimana titik penting dari Ilmu Komunikasi? Bidang kajian Ilmu ini memang masih terus berkembang. Beberapa teman saya justru malah membelot dari Ilmu ini dengan mengambil Ilmu Sosial, Ilmu Ekonomi, atau Ilmu lainnya. Padahal Ilmu Komunikasi sebenarnya punya lumbung emasnya sendiri.

Ilmu Komunikasi pada martabatnya lebih digunakan sebagai peneliti, sebagai ahli yang dapat membuat strategi dengan baik dan menyampaikan dalam penampilan yang hebat. Ilmu Komunikasi menuntut pada Mahasiswanya untuk belajar  lebih banyak tentang Ilmu lain, karena mereka akan dituntut untuk cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Lulusan Fikom bisa bekerja diranah apapun, termasuk kedokteran. Karena Ilmu ini adalah Ilmu Umum, ilmu yang perlu didukung dengan spesialisasi Ilmu Murni seperti Sosial, Politik, atau Ekonomi.

Intinya, Ilmu Komunikasi ada bukan menjadi jurnalis, iklan, atau humas. Lulusan ini lebih ditekankan untuk membuat sebuah strategi, entah itu bisnis, politik, apapun itu. Tujuannya untuk mengkomunikasikan pesan-pesan agar dapat diterima oleh targetnya. Itulah mengapa Ilmu Komunikasi baru tersanter di Indonesia pada awal 80an. Hal ini terjadi karena Ilmu Komunikasi akan hadir disaat sistem masyarakat yang mulai kritis dan mulai memahami tentang segala hal.

Komunikasi hadir sebagai media yang targetnya bukan lagi boneka pemerintah. Komunikasi hadir disaat ada perpecahan suku. Komunikasi hadir disaat adanya keriuhan antar umat beragama. Bahkan komunikasi hadir disaat Indonesia menggayang negara lain. Itulah titik point Komunikasi, menjadi jembatan antar pihak.

Untuk itu, kalau anda sebagai calon komunikasi atau sudah nyemplung duluan di Fikom, berfikir kembali, telaah kembali tujuan pekerjaan anda. Komunikasi intinya adalah research, penelitian mendalam. Penelitian tentang hubungan satu sama lain dengan perkembangan teknologi dunia. Itulah kenapa Komunikasi menjadi salah satu sektor penting di Kementerian Indonesia. Jadi sebagai Ahli Komunikasi tidaklah mentok menjadi praktisi, namun anda akan lebih berderajat sebagai peneliti.


Kaji kembali pilihan anda dan tetapkan untuk tetap sejalur dalam Ilmu Komunikasi. Jadi peniliti pada awalnya, harus berkarya pada akhirnya. Karyanya adalah Ilmu Pengetahuan untuk anak cucu kita nanti.

Yang dipelajari di Ilmu Hubungan Internasional (HI)


Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwasanya jurusan Ilmu Hubungan Internasional adalah sebuah jurusan yang mempelajari disiplin ilmu terkait hubungan internasional (inter-nation/antar bangsa) atau bisa juga disebut sebagai ilmu yang mempelajari seluruh isu dan fenomena antar lintas batas negara. Dengan semakin kompleksnya hubungan lintas batas negara di era globalisasi ini, maka fenomena hubungan internasional tidak lagi hanya masalah hubungan sebuah negara dengan negara lain atau keterlibatan negara di berbagai organisasi internasional seperti PBB (Perserikatan Bangsa—bangsa) atau WTO (World Trade Organization). Fenomena internasional lebih dari itu, bahkan hubungan antara individu dengan individu juga bisa dikategorikan sebagai hubungan internasional. Jadi jangan heran jika nantinya anda akan mempelajari tentang peran perusahaan-perusahaan, berbagai kelompok, ataupun individu terkenal baik itu politisi, pemuka agama, tokoh masyarakat, bisnisman dan artis dalam hubungan internasional.
Mempelajari hubungan internasional ibarat mempelajari sebuah dunia kompleks dan luas. Anda akan belajar isu-isu yang tidak melulu membahas tentang keterlibatan negara dan politik. Melainkan Anda juga akan membahas isu-isu lain seperti ekonomi, hukum, budaya, sosial, komunikasi, sastra bahkan isu-isu lain seperti pertanian, nuklir, teknik bahkan kedokteran. Anda akan mempelajari berbagai perjanjian internasional dan kebijakan terkait isu-isu tersebut. contohnya saja terkait akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) maka perawat dan akuntan akan disertifikasi. Kebijakan perihal sertifikasi profesi dalam implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN inilah yang akan menjadi concern anda. Demikian juga isu-isu lain terkait berbagai profesi dan bidang ilmu.
Untuk menjawab tantangan dunia saat ini maka Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas memiliki 3 penjurusan yang bisa dipilih oleh mahasiswanya, yaitu Ekonomi Politik Global, Diplomasi dan Hubungan Luar Negri. Pemilihan penjurusan terlihat saat mahasiswa memilih mata kuliah yang akan diambil. Mulai dari semester 3 mata kuliah penjurusan ini telah disediakan. Mulai dari semester 3 sampai semester selanjutnya mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas benar-benar harus memastikan penjurusan mereka. Pilihan penjurusan ini juga akan sangat erat kaitannya dengan tema skripsi dan rencana karir masa depan anda nantinya. Jadi memang harus dipikirkan secara matang. Untuk memilih penjurusan ini, anda bisa berkonsultasi dengan dosen pembimbing akademik (PA) yang telah ditetapkan oleh jurusan. Dosen PA akan memberikan gambaran perihal penjurusan ini dengan baik karena hal tersebut adalah tanggung jawab mereka. Dosen PA hampir sama perannya dengan guru BK di SMA.
Sebagai gambaran dasar penjurusan ekonomi politik global akan mempelajari tentang masalah-masalah Ekonomi Politik Global serta aplikasinya dalam bentuk kebijakan, keputusan dan praktek-praktek kenegaraan dan masyarakat sipil. Anda juga akan mempellajari tentang konsep dan teori untuk menjawab masalah-masalah global sperti krisis ekonomi, pangan dan energi, kerusakan lingkungan, kemiskianan dan kelaparan, serta ancaman perdamaian dunia.
Penjurusan diplomasi akan mempelajari tentang perundingan dan pembuatan keputusan dengan bangsa-bangsa lain baik bilateral maupun multilateral dan forum-forum internasional. Kompetensi dalam bidang diplomasi ini akan ditekankan pada preventif diplomacy (diplomasi pencegahan) dan cultural diplomacy (diplomasi kebudayaan). Penjurusan hubungan luar negri akan mempelajari tentang keahlian dalam merumuskan, menganalisa dan emnwarkan pemecahan masalah-masalah hubungan luar negri, membentuk dan mengembangkan hubungan luar negri, memakai badan-badan pembuat keputusan internasional, termasuk hukum-hukum, aturan-aturan main dan teknik-teknik perundingan dan perjanjian internasional.

Apakah anak IPA bisa masuk HI?
Jawabannya cukup simple, bisa. Bahkan di angkatan saya sendiri mungkin setengahnya merupakan anak IPA. Satu hal yang perlu dipastikan adalah kalian dapat lolos seleksi masuk HI, entah dengan SNMPTN, SBMPTN, atau SIMAK. Bahkan ada saja kok yang dari IPA berhasil masuk via jalur SNMPTN atau dulu lebih dikenal sebagai SNMPTN Undangan.

Kalau anak Bahasa?
Sama saja seperti yang saya sebutkan diatas. Asal bisa lolos seleksi masuk, no worries.

Apa yang harus dipelajari agar dapat masuk HI UI?
Pelajaran khusus rasanya tidak ada. Kalau konteks pertanyaannya apa yang harus dipelajari untuk masuk HI UI, maka pelajarilah segala jenis pelajaran yang diuji pada saat seleksi masuk. Kalau kalian anak IPA atau Bahasa, maka kalian harus belajar mata pelajaran IPS agar dapat diterima dalam seleksi masuk. Setahu saya, untuk seleksi masuk HI UI itu yang diujikan memang mata pelajaran IPS.

Apakah di HI akan belajar matematika?
Setiap mahasiswa di HI bahkan FISIP akan bertemu dengan statistika sosial. Maka saya konsiderasikan mata kuliah tersebut sebagai “pertemuan dengan matematika”. Jika kalian nantinya melakukan berbagai penelitian dengan metode kuantitatif, maka itulah “pertemuan dengan matematika”. Tapi secara umum tidak banyak unsur matematika. Mungkin hanya ada sejumlah teori yang membuat nantinya kalian harus bertemu dengan matematika.


Setelah masuk HI UI, nantinya apa saja yang akan dipelajari?
Jadi sebenarnya dulu di HI UI ada peminatan. Tapi program peminatan tersebut berakhir di angkatan 2008. Sekarang memang tidak ada peminatan, tapi masing-masing mahasiswa diminta untuk mengarahkan dirinya sendiri ke berbagai mata kuliah yang sesuai minat mereka. Ada 3 cluster di HI UI, yaitu Pengkajian Strategis (Keamanan Internasional), Ekonomi Politik Internasional, dan Masyarakat Transnasional. Agar lebih mudah menggambarkan masing-masing cluster maka saya akan menjabarkan beberapa mata kuliah dan apa yang dipelajari di mata kuliah masing-masing cluster. Saya sendiri memutuskan untuk mengarahkan diri saya sebagai “anak Pengstrat” karena setelah mengambil ketiga kelas teori dari masing-masing cluster saya melihat bahwa minat saya memang ke kajian keamanan dan pertahanan. Beberapa yang saya pelajari dari cluster Pengstrat adalah perang (misal: taktik dan strategi perang), terorisme, institusi kemanan Internasional, komunitas keamanan ASEAN, dinamika kekuatan global, sistem persenjataan Indonesia, revolusi sistem persenjataan, dan masih banyak lagi. Sementara untuk mereka yang lebih menyukai isu-isu ekonomi akan ada beberapa kelas seperti institusi perdagangan internasional, institusi keuangan, MNC, Pembangunan Asia Timur, dll. Terakhir untuk mereka yang menyukai isu-isu humanis maka biasanya mereka akan mengambil kelas-kelas masyarakat transnasional, seperti migrasi global, gender, institusi lingkungan global, dinamika HAM, dll. Kalau tidak salah, mengapa peminatan secara spesifik sudah tidak ada karena isu dalam HI dapat beririsan antara satu cluster dengan yang lainnya. Misalnya ketika membicarakan “Perdagangan Senjata”, maka isu tersebut bisa termasuk ke dalam dua cluster, yaitu Pengstrat dan Ekopolin. Tapi di luar berbagai kelas spesifikasi cluster tersebut, terdapat berbagai kelas kawasan yang dapat diambil. Misalnya saya sendiri karena tidak ingin mengambil kelas cluster lain, maka lebih memilih mengambil banyak kelas kawasan seperti Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan AS, Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Cina, Dinamika Kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, Dinamika Kawasan Afrika dan Timur Tengah, dll.


Pengen masuk HI tapi saya tidak suka politik. Bagaimana ya?
Awal-awal mungkin kalian memang merasa tidak suka dengan politik. Tapi kemungkinan bahwa fakta itu berbalik ketika kalian memasuki HI bisa saja terjadi. HI sangat lekat dengan politik. Kalau pada akhirnya kalian ternyata tetap muak dengan politik, maka saya sarankan untuk berpindah haluan jurusan saja. HI tidak dapat dipisahkan dengan politik. Bahkan awalnya Departemen HI itu sebenarnya bagian dari Departemen Ilmu Politik. Banyak sekali mata kuliah yang memiliki nama yang hampir sama dengan mata kuliah di Departemen Ilmu Politik.

Apakah anak HI harus jago debat?
Tidak juga. Memang banyak anak HI UI yang aktif dalam lomba debat atau MUN. Tapi banyak juga sebagian dari mereka yang memilih untuk tidak aktif di keduanya dan hanya aktif dalam organisasi atau memperbanyak menulis. Tapi kalau tidak jago debat bukan berarti kalian tidak suka bersosialisasi kan? Kenapa bertanya begitu? Karena menurut saya kunci utama kesuksesan anak-anak HI adalah kemampuan dalam bersosialisasi. Tak perlu jago debat, asal bisa bersosialisasi dan menantang diri sendiri saja.

Kalau lulus HI UI, apakah prospek kerjanya hanya terbatas pada diplomat? Peluang kerjanya apa saja?
Jujur-jujuran, kalau masuk HI UI menurut saya diarahkan lebih kepada menjadi akademisi. Awal masuk HI UI memang banyak yang bilang ingin menjadi diplomat atau masuk Kemlu. Tapi lama-kelamaan karena melihat realita bahwa proses masuk Kemlu sulit dan gaji awal diplomat tidak terlalu besar, banyak pula yang berpindah haluan. Lulusan HI sebenarnya sangat fleksibel ketika lulus, mungkin karena sebenarnya berbagai keahlian seperti analisis dan public speaking sudah dikuasai semasa kuliah. Beberapa tren pekerjaan yang cukup digandrungi anak HI UI adalah konsultan, analis, Public Relations, jurnalis, peneliti, dosen, bekerja untuk NGO, bekerja untuk MNC, human resources, dll.

Referensi universitas lain untuk jurusan HI?
Kalau ingin masuk HI sebenarnya memang tidak harus di HI UI saja. Ada sejumlah pilihan universitas lainnya. Beberapa yang cukup familiar bagi saya adalah: UNPAD, UGM, Parahyangan, UPH, BINUS, Paramadina, dan masih banyak lagi.


Bedanya D3 Akuntansi sama S1 Akuntansi










assalamualaikum w.w., kali ini saya ingin berbagi tentang jurusan akuntansi. Apasih sebenarnya perbedaan d3 akuntansi sama s1 akuntansi? inilah mungkin yang menjadi pertanyaan besar anak - anak sma yang sedang ingin melanjutkan ke bangku kuliah. 

Begini, 
Jurusan akuntansi merupakan salah satu jurusan favorit sejak dulu sampai sekarang, baik program diploma III (D3) dan Strata Satu (S1). Kenapa..? Karena setiap instansi baik swasta maupun pemerintah membutuhkan tenaga-tenaga akuntansi untuk mengurus masalah keuangan instansi tersebut khususnya untuk penyusunan Laporan Keuangan yang nantinya akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi manajemen.

Secara spesifik, program Diploma III memiliki keunggulan yaitu :

  • Masa studi 6 semester (3 tahun) sehingga lebih cepat lulus, sehingga alumni lebih cepat dapat pekerjaan
  • Total biaya studi lebih ringan.
  • Materi kuliahnya lebih aplikatif (praktek) sehingga alumninya lebih “siap pakai”. jadi lulusan d3 ini ditujukan kepada para mereka yang ingin cepat - cepat bekerja. 
  • Kebutuhan tenaga kerja terhadap Diploma III (D3) lebih banyak karena lulusan D3 akan mengisi level menengah pada piramida struktur organisasi dan manajemen perusahaan.
  • Dapat melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi (S1).

Prospek pekerjaan bagi lulusan Diploma III (D3) Akuntansi:
  • - Tenaga akuntansi pada perusahaan swata dan BUMN
  • - Tenaga akuntansi pada instansi pemerintah
  • - Tenaga/konsultan pajak
  • - Tenaga/konsultan akuntansi
  • - Tenaga/konsultan manajemen
  • - Internal auditor
  • - Staff auditor BPK dan BPKP
  • - Analis Kerdit (Bank dan Lembaga lainnya)

kelebihan dan keunggulan s1 akuntansi adalah sebagai berikut:
  • masa studi 8 semester (4 tahun), kelebihan 1 tahun dari d3, benar kan? hahaha. jadi s1 itu masa studinya 4 tahun oleh karena itu kita akan benar - benar matang dalam hal konsep belajar di s1 akuntansi karena waktunya yang relatif panjang dan relatif lebih santai.
  • total biaya sedikit lebih mahal dari d3, nggak papa wong cuma sedikit lebih mahal kok. (semakin mahal ilmu yang kita timba insyaAllah akan semakin tinggi ilmu yang kita dapatkan. Jadi intinya biaya yang mahal dan waktu studi yang lebih lama dari d3 agar kita lebih matang dalam hal konsep dan kepemimpinan. S1 akuntansi lebih mementingkan studi konsepnya. kenapa studi konsep? karena lulusan tenaga kerja S1 kebanyakan akan dijadikan sebagai pemimpin / koordinator jadii, perlu pemahaman konsep tentang akuntansi. begituu, mudeng?
  • prospek pekerjaan bagi lulusan s1 akuntansi sama seperti d3 akuntansi namun kebanyakan yang saya dengar, lulusan s1 banyak yang jabatannya lebih tinggi dari anak - anak d3.
ya, mungkin itu sedikit informasi tentang perbedaan d3 akuntansi dan s1 akuntansi. semoga bermanfaat bagi kalian yang  ingin melanjutkan kuliah. semoga kalian diterima di perguruan tinggi yang kalian inginkan seperti UGM, UI, UNDIP dan lainnya. aamiin ya Allah. sekian wassalamualaikum w. w.