konsumsi dan investasi (ekonomi kelas X)

Tags


perekonomian termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi investasi.
A.
Konsumsi dan Tabungan
1.        Pengertian Konsumsi (Consumption) dan Tabungan ( Saving )
Jika kalian menyempatkan diri untuk makan pagi dengan menghabiskan sepiring nasi sebelum berangkat ke Sekolah berarti kalian telah melakukan kegiatan konsumsi. Demikian juga ketika berangkat ke sekolah kalian memakai baju, sepatu serta tas, berarti kalian sedang melakukan kegiatan konsumsi. Makan sepiring nasi berarti kalian melakukan kegiatan mengkonsumsi barang yang habis dalam sekali pakai.  Memakai baju, sepatu atau tas juga melakukan kegiatan mengkonsumsi barang yang tidak habis dalam sekali pakai atau bisa dipakai berualang-ulang.
Contoh-contoh aktivitas konsumsi di atas maka kalian dapat menyimpulkan pengertian konsumsi adalah sebuah aktivitas guna menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang. Contoh kegiatan mengkonsumsi sepiring nasi (habis pakai), maka pengertian konsumsi adalah sebuah aktivitas guna “menghabiskan” nilai guna suatu barang. Contoh memakai baju, sepatu atau tas berarti kalian  melakukan kegiatan mengkonsumsi barang yang tidak habis dalam sekali pakai, maka pengertian konsumsi yang lebih tepat adalah sebuah aktivitas guna “mengurangi” nilai guna suatu barang.
Kenyataan sehari-hari di masyarakat, didapat suatu pola bahwa pada masyarakat yang tingkat pendapatannya masih rendah maka tingkat konsumsinya-pun terbatas. Pada masyarakat yang tingkat pendapatannya semakin tinggi maka konsumsinya-pun meningkat. Oleh karena itu, jika konsumsi dikaitkan dengan tingkat pendapatan, di dapat pola hubungan semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang maka akan semakin tinggi tingkat konsumsi seseorang. Dari hubungan ini dapat disimpulkan bahwa konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan siap pakai (disposable income) . Sedangkan pendapatan siap pakai adalah pendapatan setelah dikurangi pajak penghasilan.
Pola konsumsi masyarakat pada umumny tidak akan menghabiskan semua pendapatannya untuk dikonsumsi. Biasanya akan ada sebagian pendapatan yang disisihkan untuk ditabung. Oleh karena itu tabungan dapat diartikan sebagai sisa pendapatan setelah dikurangi untuk konsumsi.


Tabungan juga diartikan sebagai pengurangan konsumsi saat ini, demi untuk mengkonsumsi lebih banyak diwaktu yang akan datang. Tabungan dapat memperbesar kapital/modal,  yang pada akhirnya memperbesar pula kapasitas produksi, sehingga akan semakin banyak barang dan jasa yang dihasilkan.
2.         Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
Hubungan antara tingkat konsumsi dan pendapatan diformulasikan dalam fungsi konsumsi, sementara hubungan antara tingkat tabungan dengan tingkat pendapatan dirumuskan dalam fungsi tabungan. Jadi fungsi konsumsi menunjukkan hubungan antara tingkat konsumsi dengan tingkat pendapatan. Sedangkan fungsi tabungan menunjukkan hubungan antara tabungan dengan tingkat pendapatan. Bila pendapatan meningkat, konsumsi dan tabunganpun ikut meningkat dengan proporsi yang lebih kecil dari kenaikan pendapatan. Pendapatan merupakan penjumlahan antara konsumsi dan tabungan.
Tabel berikut ini untuk menunjukkan gambaran atau ilustrasi hubungan tingkat pendapatan suatu masyarakat dengan tingkat konsumsi dan tingkat tabungan yang ada di masyarakat tersebut.
Tabel 7.1.
  Hubungan Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan
Dari tabel 7.1. di atas terlihat bahwa ada hubungan antara konsumsi dan
Titik (Kondisi)
Pendapatan
(
Trilyun Rp
)
Konsumsi C
(
Trilyun Rp
)
Tabungan/ S
)
(
Trilyun Rp
A
B
C
D
E
F
G
0
150
300
450
600
750
900
180
285
390
495
600
705
810
-180
-135
-90
-45
0
45
90
tabungan dengan pendapatan. Dari data juga tampak perubahan konsumsi dan perubahan tabungan lebih kecil dari pada perubahan pendapatannya. Adapun bentuk umum dari fungsi konsumsi sebagai berikut:
C  =  a  +  bY
Di mana:
a    =Besarnya konsumsi pada saat pendapatan nasional sebesar nol atau dikenal dengan sebutan konsumsi otonom
b    = MPC  yaitu angka yang menunjukkan besarnya marginal propensity to consume adalah angka perbandingan antara besarnya perubahan konsumsi dengan besarnya perubahan pendapatan nasional.
C  = Tingkat Konsumsi Masyarakat
Y  = Pendapatan Masyarakat
Dalam bentuk persamaan, definisi  b atau MPC tersebut dapat kita formulasikan:
Δ C                   C2 – C1
b = MPC =  —————  =  —————
Δ Y                    Y2 – Y1
Di mana: b  = MPC =  Marginal Propensity to Consume (Hasrat konsumsi marginal)
ΔC
=
menunjukan besarnya perubahan konsumsi
ΔY
=
menunjukkan besarnya perubahan pendapatan nasional
C1
=
tingkat konsumsi awal atau mula-mula
C2
=
tingkat konsumsi akhir
Y1
=
tingkat pendapatan mula-mula
Y2
=
tingkat pendapatan akhir
Sementara saving atau tabungan yang dapat didefinisikan sebagai bagian daripada pandapatan nasional yang tidak dikonsumsi atau sisa pendapatan nasional setelah dikurangi tingkat konsumsinya,  jadi dapat dirumuskan sebagai berikut :
S  =  Y    C
Di mana:
S          = Tingkat Tabungan
Y         = Tingkat Pendapatan C           = Tingkat Konsumsi
Jika dari 2 (dua) persamaan di atas kita hubungkan dengan persamaan umum fungsi konsumsi, maka akan didapatkan persamaan umum dari fungsi tabungan atau saving sebagai berikut:
S   =  Y     C .......................... 1) C   =  a   +   b .Y .......................... 2)
Dari 2 (dua) persamaan di atas, jika persamaan (2) disubstitusikan ke persamaan (1)  diperoleh persamaan:
S =    Y       C
S =    Y   -   ( a  +  b .Y  )
S =    Y      a      b .Y
S =   ( 1  -  b) .Y  -  a
S =   - a  +  (1 -  b) . Y .............   3)
Karena   MPC  +  MPS  = 1 ; maka  MPS  =  1 – MPC  atau MPS = 1 – b. Dari konsep MPS = 1 - b,  maka  persamaan fungsi saving sebagaimana dalam persamaan nomor 3 di atas dapat ditulis:
S   =  - a  +   (1  -  b) . Y
atau
S   =  - a  +  MPS  .  Y
Jadi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan secara matematis dapat ditulis:
C  =     a   +  b .Y
S   =   - a   +  ( 1 – b ) .Y
Di mana:
C
=
Pengeluaran untuk konsumsi
S
=
Besarnya tabungan
a
=
Besarnya konsumsi pada saat pendapatan nol (Konsumsi Otonom)
b
=
Besarnya tambahan konsumsi yang disebabkan karena tambahan pendapatan (MPC)
Y
=
Pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income)
3.         Perhitungan Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
Dari data pada tabel 7.1. di atas jika kalian akan menghitung fungsi konsumsi dan fungsi tabungan, maka pertama kali kalian dapat mencari:
a.          Fungsi Konsumsi
Dari data pada tabel 7.1, karena fungsinya garis linier atau garis lurus, maka untuk mencari persamaan konsumsinya kita bisa menggunakan  2
( dua) titik.
Misal:  Titik B  yaitu Y =  150 ; C  = 285 dan S =  -135    Titik D  yaitu Y =  450 ;  C = 495 dan S =  -45 Mencari  Fungsi  Konsumsi: Rumus:
C   =  a  +  b . Y
Untuk mencari fungsi C, kita perlu mencari b (MPC) terlebih dulu:
   C2  -  C1              495  -  285               210
b.          =   ——————  =  ——————              =  ———  =  0,70
   Y2  -  Y1            450  -   150                300
Setelah b ditemukan b = 0,70; maka langkah selanjutnya mencari “a”, dengan cara menggunakan salah satu titik atau kondisi (misal dalam hal ini kita memakai titik D dengan Y = 450 dan C  = 495), kemudian substitusikan ke persamaan.
C =    a   +   b . Y. 495 =    a   +   0,70  .   450 a =    495  -   315
a     =     180
Setelah a dan b diketahui, maka persamaan konsumsinya dapat diketahui:
C   =    180   +   0,70 .  Y
b.         Fungsi Tabungan
Dari data pada tabel 7.1, karena fungsinya garis linier atau garis lurus, maka untuk mencari persamaan tabungannya kita bisa juga menggunakan 2  (dua) titik.
Misal:  Kondisi atau titik B  yaitu Y = 150 ; C  = 285 dan S =  -135   Kondisi atau titik D  yaitu Y = 450 ;  C = 495 dan S =  -45
1)         Mencari  Fungsi  Tabungan
Rumus :    S   =  -a  +  (1    b) . Y
S   =  -a   +     MPS . Y   =  -a  +   D S / D Y . Y Untuk mencari fungsi S, kita perlu mencari MPS terlebih dulu:
                S2  -  S1            -45  -  (-135)          90
MPS =   —————  =  ———————  =  ————  =  0,30
                Y2  -  Y1                  450  -   150                 300
Setelah MPS ditemukan sebesar = 0,30; maka langkah selanjutnya mencari “a”, dengan cara menggunakan salah satu titik atau kondisi (misal dalam hal ini kita memakai titik D dengan Y = 450 dan S  = 45) , kemudian substitusikan ke persamaan. S =    -a   +   MPS. Y. -45 =    -a   +   0,30  .   450 a         =    45  +   135 a        =     180
Setelah “a” dan “MPS” diketahui, maka persamaan tabungannya dapat diketahui:
S  =   -180   +   0,30 .  Y
2)         Mencari Fungsi Tabungan, jika  fungsi C sudah diketahui
Untuk mencari fungsi S, jika fungsi C sudah diketahui atau ditemukan terlebih dulu
C = a      +   b  .  Y  ; di mana  a = 180 dan b = 0,70 , maka fungsi C dapat ditulis: C = 180    +   0,70 .  Y
Untuk merubah dari fungsi C menjadi fungsi S;
S =    -a     +    MPS .  Y ; atau
S =    -a     +  (1    b)  Y S =   -180  +  (1  -  0,70) . Y Maka  fungsi S dapat dicari, yaitu: S =   -180  +   0,30 . Y
4. Mengambar Grafik Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
Berdasarkan data pada tabel 7.1. di atas, jika digambarkan dalam sebuah grafik fungsi  Pendapatan, fungsi Konsumsi dan fungsi Tabungan akan tampak sebagai mana gambar berikut:
Grafik  7.1
.
Gambar Grafik Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
C
600
180
a
-
a
-180
0
Disaving
600
E
Saving
Y = C
C = a + b . Y
C = 180 + 0,70 . Y
S = -a + (1 - b) . Y
S = -180 + 0,30 . Y
Y
(
Income
)
Keterangan :
1.         Garis OE ( Y = C) adalah garis yang melalui titik origin (titik 0) atau sudut 45  derajad sebagai garis yang menunjukkan berbagai tingkat pendapatan =  besarnya konsumsi
2.         Titik E disebut titik Break Event  Point atau kondisi ketika semua pendapatannya habis dikonsumsi, dengan kata lain tabungan atau S = 0
3.         C adalah garis fungsi konsumsi = besarnya konsumsi pada berbagai tingkat pendapatan
4.         S = garis fungsi tabungan, yaitu besarnya saving pada setiap tingkat pendapatan
5.         Marginal Propensity to Save (MPS) dan Average Propensity to Save (APS)
Pada fungsi konsumsi kita mengenal Marginal Propensity to Consume dan Average Propensity to Consume. Pada fungsi saving-pun kita juga mengenal Marginal Propensity to Save dan Average Propensity to Save. Yang dimaksud dengan Marginal Propensity to Save adalah perbandingan antara bertambahnya saving dengan bertambahnya pendapatan nasional yang mengakibatkan bertambahnya saving. Oleh karena itu perumusannya MPS ialah:
   Δ S                   S2   -   S1
MPS  =  ———————  =  ———————
  Δ Y                       Y2 -   Y1
Jika fungsi saving berbentuk garis lurus besarnya nilai MPS, mengandung makna bahwa besarnya marginal propensity to save  pada semua tingkat pendapatan nasional adalah sama.
Sedangkan yang dimaksud dengan Average Propensity to Save adalah perbandingan besarnya saving pada suatu tingkat pendapatan nasional dengan besarnya pendapatan nasional bersangkutan. Jadi formula atau rumusannya adalah:
n
n
n
 S
APS
=
y
Jika kita perhatikan bahwa untuk fungsi konsumsi berbentuk garis lurus maka fungsi savingnya-pun akan berbentuk garis lurus. Untuk fungsi saving garis lurus ini, besarnya Average Propensity to Save berbeda-beda tergantung kepada tinggi rendahnya pendapatan nasional, semakin tingkat pendapatan maka semakin besar pula angka average propensity to save- nya. Contoh pada kondisi tingkat-tingkat pendapatan di bawah tingkat nasional “break-even”, angka average propensity to save- nya mempunyai tanda negatif, sebaliknya, pada tingkat-tingkat pendapatan nasional di atas tingkat pendapatan nasional breakeven, average propensity to save akan selalu positif. Sedangkan pada tingkat pendapatan break-even, angka average propensity to save- nya akan sama dengan nol, oleh karena, seperti di atas kita terangkan, yang dimaksud dengan tingkat pendapatan break-even ialah tingkat pendapatan nasional di mana seluruh pendapatan digunakan untuk konsumsi, berarti pada tingkat pendapatan breakeven maka besarnya saving sama dengan nol.
6 .    Hubungan antara MPC dengan MPS, dan APC dengan APS
Hubungan antara Marginal Propensity to Consume dengan Marginal Propensity to Save dapat kita nyatakan sebagai berikut:   MPC + MPS = 1 Atau bisa dinyatakan dengan cara lain: MPC = 1 – MPS   Atau  MPS = 1 –
MPC
Pembuktian dari perumusan tersebut adalah sebagai berikut:
Y  =  C  +  S   ;  maka    D Y =   D C  + D S
Kalau ruas kanan dan ruas kiri masing-masing kita bagi dengan DY, maka-
hasilnya:
ΔY         ΔC + ΔS ΔY = ΔY
ΔC +   ΔS
1 =
ΔY    ΔY
1  =  MPC  +  MPS
Hubungan antara Average Propensity to Consume dengan Average Propensity to Save adalah mirip dengan hubungan antara Marginal Propensity to Consume dengan Marginal Propensity to Save yaitu :
APCn + APSn  =  1   Atau   APCn  = 1 –  APSn  atau  APSn  = 1 – APCn 1 = APCn  + APSn
Berikut ini contoh perhitungan yang menunjukkan hubungan antara pendapatan, konsumsi, saving, average propensity to consume, average propensity to save, marginal propensity to consume  dan marginal propensity to save dengan menggunakan data dari Tabel 7.1. Nilai perhitungan tertera dalam tabel 7.2
Tabel 7.2.
  Perhitungan APC, APS, MPC dan MPS
Kasus-kasus  Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan
7.
Pendapatan Y
(
Trilyun Rp
)
Konsumsi C
(
Trilyun Rp
)
Tabungan/ S
)
Trilyun Rp
(
APC
0
150
300
450
600
750
900
180
285
390
495
600
705
810
APS
MPC
MPS
-
90
1
,
30
1
,
10
1
,
1
0
,
94
0
,
90
-
-0
,
90
-0
30
,
10
,
-0
0
0
,
06
0
,
10
-
70
0
,
0
,
70
0
70
,
,
0
70
0
,
70
0
,
70

,
30
0
,
0
30
0
,
30
0
,
30
0
,
30
0
,
30
-180
-135
-90
-45
0
45
90
Sebagai mana dikemukakan di depan, rumus umum daripada fungsi konsumsi adalah C = a + b . Y  atau C = a + MPC . Y,  maka perumusan kembali daripada fungsi konsumsi ini ialah :
C = (APC n – MPC) Yn + MPC.
Berdasarkan perumusan di atas, berikut ini merupakan contoh kasus menemukan fungsi konsumsi. Jika diketahui data tingkat pendapatan dan tingkat konsumsi suatu masyarakat sebagai berikut:
a.          Pada tingkat pendapatan nasional per tahunnya sebesar Rp 750,- miliar, besarnya konsumsi sebesar Rp 705,- miliar per tahun.
b.         Pada tingkat pendapatan nasional sebesar Rp 900,- milyar per tahun, besarnya konsumsi per tahunnya Rp 810,- milyar.
Dari kasus di atas, pertanyaannya adalah: a. Carilah fungsi konsumsinya!
b. Carilah berapa besarnya tingkat pendapatan nasional pada kondisi Breakevent point?
Jawab:
a.          Mencari besarnya APC pada tingkat konsumsi 810; APC810 = C810/Y900 = 810/900 = 0,90 Mencari nilai atau besarnya MPC:
   MPC : DC / DY    =   (C810 – C705) : (Y900 – Y 750)
=   (810 – 705) : (900 –  750) =  105  : 150 =   0,70.
Dengan menggunakan rumus:
C = ( APCn – MPC) . Yn +  MPC . Y
= (0 ,90 – 0,70) .900 + 0,70 . Y
= 0 ,20 x 900 + 0,70 . Y
C = 180 +  0,70 . Y
b.          Tingkat pendapatan break-event (break-event level of income) , yaitu tingkat pendapatan di mana besarnya pendapatan sama dengan besarnya pengeluaran untuk konsumsi. Jadi : Y  =  C    Y – C=  0 Y – (180 + 0,70 Y) =    0 Y –  0,70 Y – 180 =    0 0,30 . Y – 180 =    0
0,30 Y           = 180
Y      =    600
Dari kasus di atas dapat disimpulkan bahwa persamaan fungsi konsumsinya adalah   C = 180 + 0,70 .Y  dan tingkat pendapatan break-event sebesar Rp.600 milyar rupiah per tahun.
Menentukan fungsi tabungan/saving
Jika diketahui: Fungsi konsumsi suatu masyarakat mempunyai persamaan:
C = 180 + 0,70 Y. Berdasarkan data di atas, carilah fungsi saving masyarakat tersebut!
Jawab:
Dengan menggunakan perumusan
S  =  - a  +  (1 – b) . Y
S  =  - 180  + (1 – 0,70) . Y
S  =  - 180  +  0,30 . Y
Contoh :
8.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi  dan Tabungan
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi besarnya konsumsi dan tabungan suatu masyarakat. Secara umum faktor-faktor yang dapat mepengaruhi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan suatu masyarakat antara lain:
a.          Distribusi Pendapatan Nasional
Jika distribusi  pendapatan masyarakat semakin merata, maka akan semakin tinggi pengeluaran konsumsi masyarakat tersebut.
b.          Kekayaan Masyarakat dalam Bentuk Alat Likuid
Semakin banyak alat likuid yang ada dalam masyarakat, dengan tingkat pendapatan yang sama ada kecenderungan jumlah pengeluaran konsumsi akan lebih besar dari pada keadaan di mana alat likuid dalam masyarakat sedikit.
c.          Pendapatan akan diterima di masa yang akan datang (Expected Income)
Expected income akan berpengaruh pada besarnya pengeluaran konsumsi masa sekarang. Semakin besar expected income, semakin besar pula pengeluaran konsumsinya. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah expected income maka akan semakin kecil pengeluaran konsumsinya.
d.          Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk, akan berpengaruh pada pengeluaran konsumsi suatu masyarakat. Suatu perekonomian yang penduduknya relatif banyak, pengeluarannya untuk konsumsi pun akan lebih besar daripada perekonomian yang jumlah penduduknya sedikit, meskipun pendapatan nasional kedua masyarakat tersebut sama besarnya.
e.          Pendapatan tertinggi yang pernah dicapai pada masa lampau
Pengeluaran konsumsi masyarakat dipengaruhi juga oleh tingkat pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya.
f.           Harapan/expectasimasyarakat akan adanya perubahan harga
Jika diperkirakan harga akan naik, maka masyarakat ada tendensi untuk menggunakan uangnya untuk membeli barang dan jasa, sekalipun pendapatan masyarakat tidak berubah. Maka dengan demikian fungsi konsumsi akan bergeser keatas. g. Struktur Pajak
Pajak yang bersifat progresif dapat menyebabkan kenaikan fungsi konsumsi. Dan adanya perubahan struktur pajak akan mempengaruhi fungsi konsumsi masyarakat.
h.          Sikap masyarakat terhadap kehematan (Attitude toward Thrift)
Fungsi konsumsi masyarakat yang sebenarnya, banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dan tingkah laku masyarakat itu sendiri terhadap sifat hemat. Makin hemat suatu masyarakat, makin rendahlah MPC nya.Tingkah laku seseorang terhadap kehematan dipengaruhi oleh time-preference- nya, yaitu pemilihan waktu tentang konsumsi masyarakat yang lebih penting, antara konsumsi waktu sekarang dengan konsumsi waktu kemudian.
i.            Selera
Perbedaan selera masyarakat dalam berkonsumsi akan berpengaruh terhadap fungsi konsumsinya. Bila masyarakat memiliki selera yang menurun dalam  konsumsi, maka fungsi konsumsi jangka pendek bergeser ke bawah.
j.            Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi misalnya; umur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, keadaan keluarga, ini akan berpengaruh pada pengeluaran konsumsinya, yang kemudian akan menyebabkan pergeseran fungsi konsumsi.
k.          Keuntungan/kerugian kapital (Windfall Gain)
Keuntungan kapital, yaitu dengan naiknya keuntungan bersih dari kapital akan mendorong bertambahnya konsumsi, sebaliknya adanya kerugian kapital akan mengurangi konsumsi . l. Tingkat Bunga (Rate of Interest)
Tingkat bunga akan berpengaruh terhadap besarnya tingkat konsumsi. Semakin tinggi tingkat akan cenderung mengurangi besarnya tingkat konsumsi masyarakat tersebut. Sedangkan semakin rendah tingkat bunga akan cenderung menaikkan tingkat konsumsi masyarakat tersebut.
Tugas:
Kerjakan secara individu!
1.       Ketika pendapatan masyarakat sebesar Rp 500 milyar, tingkat konsumsinya sebesar Rp 400 milyard. Saat pendapatan masyarakat tersebut naik menjadi Rp 600 milyar, tingkat konsumsinya naik menjadi Rp 480 milyar. Carilah fungsi konsumsinya, fungsi tabungan dan break event  pointnya?
2.       Kalian pasti mengetahui pentingnya tabungan bagi pembangunan nasional bukan? Coba tuliskan apa saja peran tabungan bagi pembangunan nasional?
3.       Identifikasikan minimum 5 faktor yang dapat mempengaruhi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.
Hasilnya dikumpulkan kepada guru kalian!
B.    Investasi
1.          Pengertian Investasi
Pengertian investasi diartikan sebagai pengeluaran yang ditujukan untuk menambah atau mempertahankan persediaan modal atau persediaan kapital (capital stock) . Perlu kita sadari bahwa pengertian investasi dalam ekonomi berbeda dengan istilah investasi yang dipergunakan sehari-hari. Contoh pembelian barang maupun jasa seperti gedung, mesin, peralatan dan pendidikan dapat digolongkan sebagai investasi, tetapi pembelian surat berharga seperti obligasi, dan saham bukan merupakan investasi dalam pengertian ekonomi, alasannya  karena pembelian obligasi dan saham hanya merupakan pertukaran kertas berharga dan tidak ada kapasitas produksi baru yang diciptakan. Dalam pertukaran kertas berharga tersebut tidak ada investasi real dalam perekonomian. Tetapi jika seseorang memiliki saham kemudian dijual dan uangnya dipergunakan untuk membeli mesin-mesin, gedung  dan peralatan lain, maka pengeluaran ini dapat diartikan sebagai investasi dalam arti ekonomi.
2.          Penggolongan Investasi
Secara garis besar investasi dapat digolongkan menjadi 5 (lima) macam yaitu:
a.          Investasi tetap, investasi perusahaan yang terdiri dari: pengeluaran perusahaan untuk mesin-mesin, perlengkapan, bangunan yang semuanya bersifat tahan lama.
b.         Investasi untuk perumahan khususnya rumah tempat tinggal.
c.          Investasi yang berupa penambahan persediaan  atau inventory.
d.         Investasi Bruto atau Investasi Kotor yaitu semua tambahan barang-barang modal (stock capital) selama periode tertentu, baik tambahan yang benarbenar baru ataupun tambahan barang-barang modal yang sifatnya untuk penggantian barang-barang modal yang sudah ada (replecement).
e.          Investasi Netto atau Investasi Bersih yaitu semua tambahan barang-barang modal (stock capital)  selama periode tertentu yang benar-benar baru. Dalam investasi bersih ini  tidak diperhitungkan tambahan barang-barang modal yang sifatnya untuk penggantian barang-barang modal yang sudah ada (replecement) . Investasi Netto bisa dicari dari Investasi Bruto dikurangi dengan penggantian (replacement)  atau untuk penyusutan (depresiasi ).
Sebuah perusahaan otobus di tahun 2005 memiliki 50 unit bus. Selama tahun 2005 itu ada 5 unit bus yang sudah tidak bisa dipakai mengingat umur ekonomis yang sudah habis atau sudah tidak menguntungkan lagi kalau dioperasionalkan, sehingga pengusaha memutuskan menghentikan operasional 5 unit bus yang sudah tidak layak lagi. Pengusaha bus tersebut selama tahun 2005 melakukan pembelian 10 unit bus masing-masing seharga Rp 900 juta  sehingga total dana yang dikeluarkan sebesar Rp 9 milyar. Dengan tambahan 10 bus baru tetapi ada 5 buah bus yang tidak dioperasionalkan lagi maka jumlah bus yang dapat dioperasional oleh pengusaha bus tersebut setelah melakukan pembelian 10 unit  hanya berjumlah 55 unit. Dari kasus di atas, maka dapat disimpulkan besarnya investasi bruto perusahaan tersebut sebesar Rp9 milyar, tetapi investasi netto-nya hanya 5 unit bus yang dianggap benar-benar baru dan bukan sebagai penggantian dari armada bus yang sudah ada. Jadi nilai investasi netto-nya berjumlah Rp900 juta x 5  unit bus atau sebesar Rp4,5 milyar.
Contoh :
3.  Konsep Nilai Waktu dari Uang (Present Value of Money).
Dalam konsep nilai waktu dari uang kita mengenal 2 (dua) macam, yaitu:
a.      Konsep  Nilai Sekarang  (Present Value)
Konsep nilai sekarang digunakan untuk menilai arus kas masuk yang akan diterima di masa yang datang, jika dinilai sekarang. Pengertian lain mengetahui bagaimana menghitung nilai sekarang untuk returnyang akan diterima di waktu yang akan datang.
Rumus Umum:
PV  =  FV ( 1 + r ) –n  atau  PV  = FV/ (1 -  r) n
Di mana: PV=  Nilai Sekarang (Present Value) FV=  Nilai yang akan datang (Future Value) r            =   tingkat bunga yang berlaku n         =   jangka waktu dalam tahun Contoh :
1.    Anik akan diberi uang oleh orangtuanya sebesar Rp10.000.000,00, tetapi uang tersebut baru akan diterimakan 2 tahun mendatang. Jika bunga yang berlaku sebesar 10 % per tahun, berapa uang Ani jika dinilai sekarang?
PV         =  Rp10.000.000,00  /  (1  + 0,10) 2
=   Rp10.000.000,00  /  1, 21
=   Rp8.264.462, 80
2.    Sebuah proyek di akhir tahun pertama mendapatkan hasil Rp 30 juta, dan diakhir tahun ke dua mendapatkan hasil Rp 40 juta. Berapa nilai sekarang (present value) dari hasil proyek di atas jika bunga pasar (r) sebesar 10%.
  tahun
0           1          2
PV = ?          Rp 30 juta       Rp 40 juta
PV         =   Rp 30 juta/ (1 + 0,10)-1  +  Rp 40 juta/ (1 + 0,10)-2
PV         =    Rp 27,273 juta  +  Rp 33,058 juta
=    Rp 60,331 juta
Dari perhitungan di atas maka nilai sekarang dari sejumlah uang yang akan diterima di masa yang akan datang tentunya akan menjadi lebih kecil, karena adanya unsur pengurang atau discount factor.
b.     Konsep  Nilai Mendatang  (Future Value)
Konsep nilai mendatang atau yang akan datang digunakan untuk menilai dana yang dimiliki saat ini bila dihitung di masa yang datang. Pengertian lain untuk menghitung nilai  yang akan datang dari sejumlah uang yang dimiliki saat ini.
Rumus Umum :
FV  =  PV ( 1 + r ) n
Di mana:        PV =  Nilai Sekarang (Present Value) FV =  Nilai yang akan dating (Future Value) r          =   tingkat bunga yang berlaku n         =   jangka waktu dalam tahun
Bagus saat ini mempunyai uang sebesar Rp10.000.000,00. Jika bunga yang berlaku sebesar 10% per tahun, berapa uang Bagus 2 tahun mendatang?
FV       =  Rp10.000.000,00  .  (1  + 0,10) 2
=   Rp10.000.000,00  .  1, 21
=   Rp12.100.000, 00
Dari perhitungan di atas maka nilai yang akan datang dari sejumlah uang yang dimiliki saat ini tentunya akan menjadi lebih besar, karena adanya unsur pengali atau coumponding factor.
Contoh :
4. Marginal Efficiency of Capital (MEC) dan  Marginal Efficiency of Investment (MEI)
Dalam investasi, sebagaimana kita ketahui hubungan antara tingkat bunga dan investasi bersifat negatif, hal ini mengandung arti bahwa semakin tinggi tingkat bunga semakin rendah tingkat investasi. Sebaliknya semakin rendah tingkat bunga maka akan semakin tinggi tingkat investasinya. Mengapa demikian? Hal ini bisa dijelaskan bahwa seorang investor dalam berinvestasi tentunya akan mempertimbangkan hasil yang akan diperolehnya (return)  dan resiko (risk) yang dihadapinya. Jika dikaitkan dengan tingkat bunga (rate of interest)  yang berlaku misal tingkat bunga pasar (bisa diwakili dengan tingkat bunga deposito), investor akan melihat bunga deposito sebagai salah satu alternatif menanamkan uangnya dengan hasil tertentu dan resikonya nol.
Dari uraian di atas wajarlah jika seorang investor akan melihat bunga pasar ( bunga bank/bunga deposito) sebagai acuan atau pertimbangan ia mau berinvestasi atau tidak. Perilaku investor akan melihat tingkat bunga yang berlaku sebagai bahan pertimbangan, jika bunga bank tinggi maka ia akan lebih tertarik menanamkan dananya di bank daripada berinvestasi langsung, oleh karena itu ketika bunga bank tinggi investasi cenderung rendah. Sebaliknya jika bunga bank rendah investor akan lebih tertarik berinvestasi langsung daripada menanamkan dananya di bank, di sisi lain pengusaha/investor juga akan berani pinjam bank dan menanamkan dananya untuk investasi. Jadi wajar jika bunga bank rendah investasi cenderung meningkat. Hubungan tersebut jika digambarkan dalam bentuk kurva maka kurvanya disebut kurva Marginal Efficiency of  Capital (MEC) dan kurva Marginal Efficiency of  Investment ( MEI). Kurva MEC merupakan kurva yang menunjukkan hubungan negatif antara Investasi (I) dan tingkat bunga (rate of interest = ri), di mana diasumsikan pertimbangan investor hanya perbandingan antara besarnya hasil (Return = R) dan tingkat bunga (ri), faktor-faktor lain yang mempengaruhi investasi diabaikan. Keputusan investor, jika R > ri, atau return lebih besar dari tingkat bunga maka  investasi akan dilakukan, tetapi sebaliknya jika R < ri  atau return lebih kecil dari tingkat bunga investasi tidak  dilakukan.
Konsep Marginal Efficiency of Capital (MEC) sebenarnya sama dengan pengertian Internal Rate of Return (IRR). IRR sendiri dapat diartikan sebagai suatu tingkat bunga yang menyebabkan nilai sekarang dari arus kas masuk bersih proyek (Proceed atau dikenal Present Value Cash Inflow)  akan sama dengan nilai sekarang dari arus kas keluar (Outlay atau Present Value Cash Outflow) . Keputusan yang diambil investor adalah dengan membandingkan IRR dengan bunga yang berlaku (bunga pasar atau bisa tingkat bunga yang disyaratkan pemodal). Jika IRR > bunga yang disyaratkan, maka proyek layak. Sebaliknya jika IRR < bunga yang disyaratkan maka proyek tidak layak. Penilaian usulan proyek juga bisa digunakan kriteria Nett Present Value ( NPV = Nilai bersih Sekarang). Proyek layak jika NPV positif dan proyek tidak layak jika NPV negatif. NPV dapat dicari dari Nilai Sekarang Arus Kas Masuk (Present Value Cash Inflow = PV CIF) – Nilai Sekarang Arus Kas Keluar (Present Value Cash Outflow = PV COF). Atau dapat diformulasikan sebagai berikut:
NPV  =  PV CIF  -  PV COF
Dari konsep MEC untuk suatu usulan proyek, sebenarnya nilai MEC akan tergantung dari Nilai/Biaya Aktiva sekarang (CA) , Jumlah Dana yang dihasilkan Selama Umur Proyek (MA)  dan Distribusi dari pendapatan atau dana yang dihasilkan (DA) . Jadi nilai atau besarnya MEC dapat diformulasikan :
MEC = f (C
A,
M
A,
D
A
)
Perhitungan bisa dilakukan dengan mencari “r” atau tingkat bunga yang menyebabkan, perhitungan “r” bisa dilakukan dengan mencoba-coba “r” atau trial and error  atau bisa dengan software excel.
PV COF = PV CIF
Contoh :
Contoh Perhitungan MEC atau IRR
Sebuah usulan investasi berupa pembelian mesin membutuhkan seharga Rp 100 juta. Umur mesin 3 tahun dan nilai sisa (residu mesin) di akhir tahun ke 3 senilai Rp 30 juta. Pendapatan bersih mesin di akhir tahun 1 = sebesar Rp 40 juta, akhir tahun ke 2 Rp40juta dan di akhir tahun ke 3 sebesar Rp 25 juta.
    Tahun
0            1          2          3
-100 juta          +40 juta           +40 juta                    +25 juta
Residu         +30 juta Jika tingkat bunga yang disyaratkan pemodal sebesar 12% layakah proyek usulan pembelian mesin di atas?
Jawab:
MEC    =  IRR = ?   Mencari “r” à PV COF  =  PV CIF
PVCOF =  100 juta
PV CIF= [ 40 juta/(1 + r)-1 ] +  [ 40juta/(1 + r)-2 ] + [ 55 juta/(1 + r)-3 ]
100 juta            =  [ 40 juta/(1 + r)-1 ] +  [ 40juta/(1 + r)-2 ] + [ 55 juta/(1 + r)-3 ]
Dengan mencoba-coba (trial and error) berbagai “r” atau bisa menggunakan software excel pada menu fungsi (fx) financial IRR, ditemukan r = 15,68%. Karena IRR atau MEC yang diperoleh > tingkat bunga yang disyaratkan pemodal, maka usalan pembelian mesin di atas layak dilaksanakan.
Kenyataan di masyarakat atau di lapangan ternyata proses investasi tidak sesederhana yang ada dalam teori. Walaupun R > ri, ada saja investor yang tidak berhasil menjalankan proyek itu, karena dalam memperebutkan proyek itu investor harus bersaing. Persaingan memperebutkan proyek itu diperlukan biaya, keahlian bersaing, kiat negosiasi dan lain-lain. Oleh karena itu, besar kecilnya porsi dari nilai proyek yang dapat diperoleh tergantung pada kemampuan dan kekuatan investor tersebut dalam proses memperebutkan proyek. Dalam kasus riil, hubungan antara tingkat bunga (ri) dan besarnya Investasi (I) di sini tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan antara besarnya R dan ri saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang memengaruhi kekuatan tawar untuk memperoleh proyek tersebut. Nah, hubungan antara ri dan I yang memasukkan unsur kekuatan tawar tersebut jika digambarkan dalam kurva akan membentuk kurva Marginal Efficiency of  Investment (MEI). Jika digambarkan dalam kurva, kurva MEI di sebelah kiri kurva MEC.
Pengertian MEI ini sebenarnya berkaitan dengan permintaan barang-barang kapital bagi suatu perusahaan, dengan anggapan bahwa penerimaan (aliran kas) dari proyek investasi tersedia dan diketahui secara pasti oleh perusahaan. Pada permintaan barang-barang kapital menggambarkan antara jumlah investasi dan besarnya keuntungan dari investasi tersebut. Kurve MEC dan MEI dapat dilihat
pada gambar berikut:
MEI
MEC
ri
0
I
Grafik 7.2. Kurva MEC dan MEI
5.         Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran Investasi.
Pengeluaran untuk investasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a.          Tingkat suku bunga ( r = ri), jadi dapat dirumuskan  I = f(r = ri). Hal ini dapat diartikan bahwa tinggi rendahnya tingkat investasi merupakan fungsi dari tingkat suku bunga.
b.         Tingkat Pendapatan, investasi tergantung juga dari tingkat pendapatan, sehingga dapat dirumuskan  I = f (Y)
Jadi, secara keseluruhan investasi ditentukan oleh suku bunga (r = ri) dan pendapatan (Y), sehingga dapat ditulis   I = f (r = ri,Y)
ri
O
Io
I1
I = f(ri, Yo)
I = f(ri, Y1)
Grafik  7.3. Kurva I = f(r = ri, Y)
Kasus ini dapat dijelaskan lebih lanjut, bahwa melalui kurva MEC kita dapat mengetahui besarnya investasi, dengan catatan bunga pasar diketahui. Dengan demikian, bila suku bunga dan MEC diketahui, kita otomatis bisa mengetahui berapa besarnya investasi yang dilaksanakan. Secara grafik dapat dijelaskan sebagai berikut:
Gambar 7.4 Kurva MEC dan Investasi
MEC (r)
MEC
0
MEC
1
I(r)
0
I
0
I
1
I
MEC
0
I
0
I
1
I
r
1
r
0
r
(
ri
)
Dari gambar 7.4 di atas, diketahui dengan MEC0 dan r0; investasi yang dilakukan sebesar I0  dan MEC1 dan r = r1, investasi sebesar I1. Dengan demikian kita akan memperoleh hubungan antara I dan r atau I = I (r).
c.          Social Over Head Capital (SOC), semakin banyak SOC semakin tinggi pulalah  MEI.
d.         Populasi Penduduk, semakin besar bertambahnya penduduk akan semakin bertambah permintaan barang-barang/jasa-jasa, sehingga akan menaikkan harga. Naiknya harga akan menaikkan annual rate of income, sehingga
MEI pun akan naik
e.          Penemuan dan inovasi teknologi (Technological Invention dan Inovation) yang mengakibatkan berkurangnya biaya-biaya produksi (cost reducing) akan mengakibatkan naiknya MEI.
f.           Akumulasi modal (Capital Accumulation) . Makin banyak akumulasi kapitaal akan semakin rendahlah tingkat MEI.
g.         Kepercayaan terhadap situasi perdagangan dimasa depan (state of business confience) . Sikap optimis terhadap kemungkinan hari depan akan menaikkan MEI.
h.         Struktur pajak. Struktur pajak yang memberatkan produsen akan berakibat menakutkan dan merendahkan MEI.
Tugas:
Kerjakan secara Individu!
1.    Jika kalian saat ini mempunyai uang sebesar Rp10 juta, bunga bank sebesar 12% bunga majemuk. Berapakah uang kalian 2 tahun kemudian?
2.    Jika kalian akan menerima uang sebesar Rp20 juta, tetapi uang itu baru akan diterima 3  tahun lagi, bunga bank sebesar 10%. Berapakah uang kalian saat ini?
3.    Sebuah mesin memerlukan dana sebesar Rp80juta, bisa dipakai selama 3 tahun residu nol. Hasil bersih tiap tahun selama 3 tahun berturut-turut sebesar Rp40 juta, Rp30 juta dan Rp 30 juta. Jika tingkat bunga yang berlaku 12%, layakah usulan pembelian mesin tersebut?
Hasilnya dikumpulkan kepada guru kalian!
C.        Kaitan Pendapatan Nasional, Konsumsi, Tabungan dan
Investasi
1.          Kondisi Keseimbangan Umum (Ekuilibrium)
Konsep pendapatan nasional dilihat dari segi sumber atau asalnya, terdiri dari pendapatan yang dipakai untuk konsumsi dan untuk tabungan (saving) bagi rumah tangga konsumen. Bagi rumah tangga produsen pendapatan nasional unsurnya terdiri dari pendapatan yang dikeluarkan untuk konsumsi dan untuk investasi. Jadi Y = C + S untuk rumah tangga konsumen dan Y = C + I, untuk rumah tangga produsen.
Sedangkan yang dimaksud dengan pendapatan nasional ekulibrium ialah tingkat pendapatan nasional di mana tidak ada kekuatan ekonomi yang mempunyai tendensi untuk mengubahnya.
Ini berarti bahwa pendapatan nasional akan ada dalam keadaan ekulibrium apabila dipenuhi syarat, yaitu Y = C + S; sementara di sisi lain Y = C + I, dan pendapatan nasional akan mencapai ekulibrium bilamana dipenuhi syarat tabungan akan sama dengan investasi atau ketika S = I.
2.          Pendapatan Nasional Ekuilibrium
Dengan menggunakan syarat S = I, di mana persamaan S = I dapat diuraikan lagi menjadi:
S     = I
Y – C          =  I
Y- (a + bY) =   I
Y- a – bY=  I
Y – bY       =   a + I
Menghitung Tingkat Pendapatan Ekuilibrium Diketahui :
a.      Fungsi konsumsi per tahun : C =  Rp100 milyar  +  0,75 .Y
b.     Besarnya investasi pertahun : I =  Rp 80 milyar Ditanyakan:
a.      Hitunglah besarnya pendapatan nasional ekuilibrium
b.     Hitunglah besarnya konsumsi ekuilibrium .
c.      Hitunglah besarnya saving ekulibrium . Jawab :
a.    Besarnya pendapatan nasional ekulibrium:
Y = [1 /( 1 – 0,75)] .(100  +   80)
Y = 4 . (180)
= 720  milyar
b.    Besarnya konsumsi ekuilibrium:
C = 100   +  0,75 . Y
C = 100   +  0,75 .  720
C = 100   +   540
C = 640  milyar
c.    Besarnya saving ekuilibrium:
S = Y – C
S = 720    640
= 80  milyar
(1
 – b)Y
=
  a + I
          1
Y
=
   ———— . ( a + I 
)
       1  -  b
Contoh :

3.  Angka Pengganda (Multiplier)
Dalam kenyataan di masyarakat akan sulit terpenuhinya persyaratan keseimbangan S = I, misal pada suatu ketika besarnya investasi tidak sama dengan besranya saving, maka yang akan terjadi adalah ketidakseimbangan dalam perekonomian.
Peran angka pengganda atau multiplier adalah bilangan dengan mana investasi harus kita kalikan, apabilka kita ingin mengetahui besarnya perubahan pendapatan nasional ekuilibrium yang baru, yang diakibatakan oleh adanya perubahan investasi. Angka pengganda disimbolkan dengan k. Untuk angka pengganda sendiri bisa berupa angka pengganda investasi, angka pengganda goverment expenditure, angka pengganda pajak dan lainnya.
Jika k adalah angka pengganda untuk investasi, maka k dapat dirumuskan:
Y =  k .  I Dan besarnya multiplier:
k =       Y /  I
Perumusan daripada angka pengganda investasi dapat kita temukan antara lain dengan cara seperti berikut: Kalau misalnya tambahan investasi sebesar I, mengakibatkan pendaptan nasional berubah dari Y menjadi:
Y + Y, maka :
Y + Y =  [1/(1 – b)] .  (a + I + I)
Karena (1 – b) = MPS, maka:
Y + Y =  (1/MPS) .  (a + I + I) Angka penggada investasi:
k1 Y/ΔI = 1  atau =  1          =   1
1b           1MPC            MPS
Contoh :
Menghitung Tingkat Pendapatan Ekuilibrium dengan kasus ada angka pengganda ( multiplier) investasi Diketahui :
a.    Fungsi konsumsi per tahun : C =  Rp100 milyar  +  0,75 .Y
b.    Besarnya investasi tahun pertama :  I =  Rp 80 milyar
c.    Besarnya investasi tahun kedua :  I =  Rp 120 milyar Ditanyakan:
Dengan menggunakan angka pengganda atau multiplier investasi hitunglah besarnya pendapatan nasional tahun (periode) kedua?
Jawab:
a.      Besarnya angka pengganda investasi : k1 = 1/MPS  = 1/0,25 =   4
b.      Besarnya perubahan investasi:
I = I tahun ke 2 – I tahun ke1 = 120 – 80 =  40
c.      Pendapatan nasional ekuilibium pada tahun (periode) ke 1:
Y1   =   [ 1/ (1 – 0,75)] . (100 + 80) = 720 milyar
d.      Pendapatan nasional ekuilibium pada tahun (periode) 2:
Y2   = Y1 + Y = Y1 + k1. I
=  720 + 4(40) = 720  + 160
=  Rp 880 milyar
Rangkuman
1.    Pengertian konsumsi adalah sebuah aktivitas guna menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang.
2.    Bentuk umum dari fungsi konsumsi sebagai berikut:
C  =  a  +  b  . Y
Di mana a = konsumsi otonom b = MPC
3.    Bentuk umum dari fungsi tabungan sebagai berikut
S =   - a  +   (1  -  b) . Y  atau
S =   - a  +  MPS  .  Y
4.    Pengertian investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran yang ditujukan untuk menambah atau mempertahankan persediaan modal atau persediaan kapital (capital stock) . Penggolongan Investasi: Investasi Bruto dan Investasi Netto.
5.    Dalam konsep nilai waktu dari uang kita mengenal 2 (dua) macam, yaitu:
a.    Konsep  Nilai Sekarang  (Present Value)  digunakan untuk menghitung nilai sekarang untuk return–return yang akan diterima di waktu yang akan datang.
Rumus Umum:
PV  =  FV ( 1 + r ) –n  atau  PV  = FV/ (1 -  r) n
b.    Konsep  Nilai Mendatang  (Future Value)  digunakan untuk menghitung nilai yang akan datang dari sejumlah uang yang dimiliki saat ini.
Rumus Umum :
FV  =  PV ( 1 + r ) n
6.    Kurva MEC merupakan kurva yang menunjukkan hubungan negatif antara Investasi (I) dan tingkat bunga (rate of interest = ri). Konsep Marginal Efficiency of Capital (MEC) sebenarnya sama dengan pengertian Internal Rate of Return (IRR). IRR sendiri dapat diartikan sebagai suatu tingkat bunga yang menyebabkan nilai sekarang dari arus kas masuk bersih proyek (Proceed atau dikenal Present Value Cash Inflow) akan sama dengan nilai sekarang dari arus kas keluar (Outlay atau Present Value Cash Outflow).
7.    Pendapatan nasional ekulibrium ialah tingkat pendapatan nasional di mana tidak ada kekuatan ekonomi yang mempunyai tendensi untuk mengubahnya. Keadaan ekulibrium apabila dipenuhi syarat, tabungan akan sama dengan investasi atau ketika S = I.
8.    Angka pengganda atau multiplier adalah bilangan dengan mana investasi harus kita kalikan, apabilka kita ingin mengetahui besarnya perubahan pendapatan nasional ekuilibrium yang baru, yang diakibatakan oleh adanya perubahan investasi.

Artikel Terkait